Home » » Makam Keluarga Kerajaan Mataram dijadikan tempat ziarah

Makam Keluarga Kerajaan Mataram dijadikan tempat ziarah

Written By suara rakyat on Monday, January 14, 2013 | 1:26 AM

Tonjong, (SR) – Asal sebuah nama pedukuhan yang ada di Desa Galuh Timur Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes sangat lekat dengan keberadaan sebuah makam keramat, konon makam sepanjang 7 meter tersebut adalah makam keluarga kerajaan Mataram yang dinamai Makam Dawa (Makam Panjang), Dan lokasi itu juga dijadikan tempat keramat yang sering dikunjungi warga setempat maupun warga dari luar daerah.

Kepala Desa Galuh Timur, H.M. Yusuf menjelaskan makam peninggalan era kerajaan Mataram tersebut berada didalam areal pemakaman umum yang memiliki luas sekitar 1 hektar berlokasi di dukuh Makam Dawa, awalnya merupakan hutan belantara. Makam panjang yang terletak disebuah bangunan sederhana berukuran 8 x 4 meter memiliki 4 buah jendela dan satu pintu terbuat dari papan sengaja tertutup rapat, Upaya menjaga dan merawat peninggalan sejarah bangunan ini dibangun pada Tahun 2002 atas inisiatif dirinya setelah melihat banyaknya warga yang berziarah di makam tersebut

"Secara turun temurun masyarakat khususnya di wilayah dukuh makam dawa ini, mempercayai bahwa kuburan tersebut merupakan lokasi tempat di makamkannya Raden Raksa Muka yang merupakan salah satu keluarga dari kerajaan Mataram," jelas Yusuf yang juga sebagai juru kunci.

Kondisi didalam ruangan, tidak satupun batu nisan maupun cungkup yang dapat di jadikan sebagai pertanda bahwa dilokasi tersebut merupakan sebuah makam. Namun dari aroma yang tercium dan juga sisa-sisa taburan bunga menandakan bahwa lokasi itu memang di yakini sebagai makam yang sering di datangi warga untuk berziarah.

"Kondisi ini telah terjadi semenjak lokasi makam belum di bangun ruangan seperti ini, meski di bagian lain merupakan semak belukar namun di lokasi makam tidak satupun rumput yang tumbuh," terang  Yusuf.

Lebih lanjut dikatakan Yusuf bahwa Keberadaan makam dengan warga masyarakat dukuh Makam Dawa sudah tidak dapat dipisahkan lagi, sebelumnya warga secara rutin mengadakan ziarah di lokasi makam setiap hari Jumat yang bertepatan dengan hari pasaran Kliwon. Dengan pertimbangan nilai-nilai agama Islam, saat sekarang kebiasaan tersebut berangsur berkurang. Dan pihaknya tidak ingin warga terjebak dengan hal-hal yang berbau sirik, kegiatan warga saat ini lebih bertujuan untuk menjaga kelestarian alam yang ada di sekitar makam dengan tidak menebang pohon atau mengotori lokasi sekitarnya, katanya.

Meski demikian hingga saat ini makam tersebut tetap sering di kunjungi oleh peziarah yang datang dari berbagai kota seperti Tegal, Banyumas, Yogyakarta, Surakarta, Bandung, Jakarta dan lainnya. (mam).
Share this article :