Home » , » Warga Brebes Sambut Puasa Dengan Gembira

Warga Brebes Sambut Puasa Dengan Gembira

Written By suara rakyat on Saturday, June 6, 2015 | 10:08 AM

Brebes, (srtegal.com) - Habib Umar Al Husain Al Athos dari Moga Pemalang mengajak kepada masyarakat Brebes untuk menyambut gembira datangnya bulan suci Ramadhan. Kegembiraan tersebut harus diawali dari bulan Syaban dengan berbagai kesiapan lahir batin.
Demikian disampaikan Habib pada pengajian rutin Majelis Al Husaini di halaman Masjid Al Mujahidin Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba, Kab Brebes, Kamis (4/6).
Habib mengajak untuk puasa lahir batin. Dalam artian puasa yang sesuai dengan tunttunan syareat Nabi Muhammad SAW dengan mengamalkan amalan wajib maupun sunah. “Serugi-ruginya manusia adalah, mereka yang tidak menunaikan puasa pada bulan Ramadhan,” tandasnya.
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dalam kata sambutannya mengaku gembira dengan berbagai aktivitas yang dilakukan warganya seperti pengajian dan kegiatan agama lainnya. Pemerintah kabupaten Brebes, juga mensuport warganya saat bulan puasa antara lain dengan melakukan taraweh silaturahim. “Saya dan pimpinan SKPD dan pejabat lainnya Insya Allah akan melakukan tarkhim,”  terangnya.
Bupati juga memuji keberadaan desa Bulusari yang berkeinginan untuk maju. Terbukti pada lomba desa menjadi juara 3 tingkat Kabupaten Brebes. Prestasi desa menjadi daya dorong tersendiri bagi pembangunan daerah. “Seperti Kabupaten Brebes hebat dalam penanganan hutan mangrove setelah salah seorang warga kami, Mashadi mendapatkan Kalpataru dari Presiden RI,” ungkapnya.
Kepala Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba Brebes Syaefudin Trirosanto mengajak kepada masyarakatnya untuk terus melestarikan tradisi pedesaan seperti udun-udunan dan unggah-unggahan saat menyambut bulan puasa. Karena tradisi tersebut bisa membawa merekatkan tali persaudaraan karena didalamnya ada upaya saling berbagi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Selain itu, Asep panggilan akrab Syaefudin, memaparkan pentingya hidup bergotong di pedesaan. Dari hasil gotong royong terbukti pembangunan makam desa menjadi lebih rapi, indah dan tidak terkesan angker. Terangnya.
 “Makam itu tempat suci para leluhur kita, perlu dibersihkan dan ditata dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Dari hasil swadaya masyarakat, lanjutnya, terkumpul dana Rp 120 juta. “Badan pengelola makam, telah bekerja dengan baik dan sangat memuaskan,” punjinya. Tio(R)


Share this article :