Home » » Ketua PN Brebes : Taat Hukum Berawal Dari Keluarga

Ketua PN Brebes : Taat Hukum Berawal Dari Keluarga

Written By suara rakyat on Wednesday, July 1, 2015 | 3:52 PM

Brebes, (suararakyattegal.com) - Untuk mewujudkan masyarakat yang sadar hukum, tidak semudah membalikan telapak tangan. Tetapi harus ditopang dan didukung dari semua pihak secara konfrehensif. Namun yang lebih inti, kesadaran hukum dapat dibina dari dalam lingkungan keluarga. Titik awal pembelajaran tentang kesadaran hukum berasal dari masyarakat terkecil, yakni keluarga.
Demikian disampaikan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Brebes Yoserizal SH MH kepada Humas diruang kerjanya, Senin (29/6) kemarin.
Keluarga, kata Yose, sangat menentukan seseorang untuk mematuhi atau melanggar hukum. Contoh kecil, ketika seorang anak keluar rumah dengan berkendaraan motor, orang tua sepatutnya mengingatkan anaknya agar memakai helm. “Hal-hal kecil seperti itu, wujud penegakan kesadaran hukum,” terang lelaki kelahiran Padang 13 September 1967.
Makanya, suami dari Ir Nila Wardani sangat merindukan keluarga-keluarga Indonesia yang sakinah mawadah warahmah sehingga bisa meminimalisir pelanggaran hukum. Sebab cermin dari kesadaran hukum terletak pada perilaku keluarga dan masyarakat itu sendiri. 
Komitmen Pengadilan Negeri, lanjutnya, bertekad memberikan pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat dengan maksimal tanpa pandang bulu. Setiap warga negara kedudukannya sama di mata hukum. Apalagi di era keterbukaan ini, masyarakat bisa melihat pelayanan hukum tanpa tedeng aling-aling.  Bahkan ketika masyarakat mencari keadilan sementara tidak memiliki biaya, maka ada bantuan hukum secara gratis. “Kami memberikan pelayanan hukum gratis kepada masyarakat miskin, lewat pos bantuan hukum,” terang penggemar olahraga Tenis ini.
Misalkan, ketika warga miskin diserobot tanahnya oleh pengusaha, sementara warga itu tidak memiliki biaya untuk memperkarakan, bisa meminta bantuan hukum di Pengadilan Negeri. 
“Kalau ada bukti-bukti warga tersebut miskin, bisa kami gratiskan perkaranya,” ucapnya.
Yoserizal dilantik sebagai Ketua Pengadilan Negeri Brebes pada 9 Juni 2015 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Semarang menggantikan Slamet Suripto SH MH. Sebelumnya, Yose menjabat sebagai Ketua PN Solok, Sumatra Barat. 
Mengawali kariernya, dia diangkat sebagai Calon Hakim di PN Soluntu Sumatra Barat (1993-1996), terus menjadi Hakim di PN Serui, Papua (1996) berlanjut ke PN Baturaja Sumatra Selatan (2000), PN Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau (2004), PN Padang, Sumatra Barat (2008). 
Kariernya terus meningkat menjadi Wakil Ketua PN Solok (2012) dan diangkat sebagai Ketua PN Solok tahun 2013. “Mulai 9 Juni 2015, saya mengemban tugas di Brebes,” ucap alumnus Magister Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang seraya memohon doa restu masyarakat Brebes.
Ayah dari Rahma Yolanda (IPB), Dwita Yuanida (SMA 10 Padang), Tarisa Raudatul Jannah (SMP 8 Padang), Siva Nur Fadillah (SD Pertiwi Padang) dan Salwa Nur Fatikha (SD Pertiwi Padang) mengaku senang ditempatkan di Brebes. Dia memandang Brebes sangat kondusif sehingga pelanggaran hukumnya relative minim. Terbukti satu tahun saja, hanya ada 250 perkara pidana yang masuk ke meja hijau. “Sesuai dengan Undang-undang, ada batas limit 5 bulan sejak masuknya perkara harus selesai disidangkan,” paparnya.
Dia berkeinginan untuk melakukan sosialisasi ke berbagai pelosok desa tentang kesadaran hukum. Tetapi terbentur dana karena kegiatan sosialisasi tidak masuk dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Pengadilan Negeri. “Kalau Pemkab memfasilitasi, personil kami siap memberikan sosialisasi,” tutur penggemar masakan Sea Food ini.
Sosialisasi sadar hukum, menurut Yose, sangat penting. Karena pencapaian ideal nol pelanggaran hukum tidak mungkin bisa tercapai selagi manusia masih memiliki nafsu. Pelanggaran hukum pasti terjadi karena tidak kuatnya mengekang hawa nafsu. “Maka di Puasa Ramadhan, sedikit sekali terjadi pelanggaran hukum,” tegasnya. 
Adanya pengadilan ini, lanjutnya, hakekatnya untuk memberi efek jera bagi pelanggar hukum sehingga tidak mengulangi lagi perbuatannya. Sedangkan bagi masyarakat yang baik, untuk menanamkan kesadaran bahwa melanggar hukum itu ganjarannya sangat menyakitkan. Bisa dipenjara tiga bulan, setahun, seumur hidup bahkan dieksekusi mati. 
Yoserizal meminta kepada seluruh warga masyarakat Brebes untuk bersama-sama memberi dukungan penegakan hukum. Tentunya, dalam bentuk tidak melanggar hukum sekecil apapun, karena pelanggaran hukum akan sangat merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Gofar (R)


Share this article :