Home » , » Sertifikasi Tunjangan Guru Dianggap Kurang Tepat Sasaran

Sertifikasi Tunjangan Guru Dianggap Kurang Tepat Sasaran

Written By suara rakyat on Saturday, August 1, 2015 | 5:43 PM

Bumiayu (suararakyattegal.com) - Tunjangan sertifikasi guru merupakan kebijakan Pemerintah atas perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam memberikan tambahan kesejahteraan.Tetapi dengan adanya tunjangan diharapkan tugas seorang guru dalam menata dapat mengumbangi diri dengan kualitas yang prima secara profesional. 
Tunjangan profesional tersebut sudah 10 tahun berjalan, namun konon dilapangan profesional guru dinilai masyarakat masih biasa-biasa saja, bahkan menjadi kecemburuan sosial bagi pegawai neger sipil (PNS) maupun pegawai swasta diluar profesi guru. Hal ini terungkap sambutan  Drs. H Tarsono Hemry M pd, salah satu pejabat PGRI Kabupaten Brebes pada acara halal bihalal keluarga besar PGRI Kecamatan Bumiayu dipendopo Eks Kawedanan Bumiayu baru-baru ini. 
Di Kabupaten Brebes guru yang telah mendapat tunjangan profesional belum mencapai seratus persen, karena masih ada yang masih tercatat sebagai daftar tunggu dan juga ada ratusan guru yang telah tereliminasi dalam berjuang mendapatkan tunjangan itu, namun tetap akan masih diperjuangkan secara bertahap oleh PGRI, kata Tarsono yang ketua PGRI  Kab Brebes
Peran guru dalam hal pendidikan sangat penting dalam mencerdaskan anak bangsa, memang wajib diperjuangkan kesejahteraannya, namun perlu kajian yang dalam, agar mereka sebagai guru dilapangan benar-benar memiliki profesional,  sehingga tidak ada sorotan maupun kritikan masyarakat pihak terkait dalam memberikan pelayanan, hasil seleksinya juga harus ketat jangan sampai ada nilai katrolan maupun asal bapak suka (ABS) yang diluluskan, hal ini terbukti pada guru-guru terutama yang bertugas di sekolah dasar (SD), yang hanya berijasah SPG dan PGSD maupun Diploma sistim KMBnya jarak jauh.
Bahkan mereka mengakui sudah dinyatakan berhasil dan menikmati tunjangan tersebut, namun mereka masih banyak yang belum bisa mengoperasikan komputer, hal ini dimana keprofesionalismenya seorang guru, ujar salahsatu guru SD yang enggan disebut jati dirinya saat mnghadiri acara tersebut
Menurutnya tunjangan profesional guru yang nilainya cukup signifikan lumayan itu menjadi ajang kecemburuan sosial dan hingga kini masih terus dibicarakan masyarakat, bahkan ada masyarakat mengatakan agar dihapuskan saja, lebih baik dananya dikucurkan untuk tujangan para guru yang berstatus masih GTT  yang telah lama mengabdi dan membantu guru tetap yang telah minikmati tunjangan tersebut.
Namun mereka hanya diberi honor sebesar Rp 100 hingga Rp 200 ribu perbulannya sedangkan mereka guru yang telah sertifikasi bisa minikmati hasil jutaan rupiah tanpa kerja keras hanya  mengandalkan adanya tenaga guru GTT, konon  ada juga pendapat lain dari  masyarakat menginginkan agar tunjangan itu dihapus saja dan diganti agar  gaji guru dinaikkan dengan catatatan guru tetap harus bisa bekerja profesional, kata dia. 
Ditempat terpisah H Taryono selaku Kepala UPTD Diknas Kecamatan Bumiayu mengaku di Kecamatan Bumiayu sendiri saat ini mengalami kekurangan guru SD PNS sehingga saat ini masih mengandalkan guru GTT untuk diperbantukan dalam kegiatan mengajar belajar (KMB), jelasnya saat ditemui diruang kerjanya
Sementara Triyono SPd  selaku peduli pendidikan di Brebes Selatan mengatakan, kalangan pendidik juga mengakui, dengan digelontorkannya tunjangan profosional guru sekarang seringkali dibicarakan masyarakat tentang dimana bukti hasil profesionalnya seorang guru, dan yang ada mereka hanya mengejar tuntutan saja untuk memenuhi kesejahteraan pribadinya.
Sehingga terbukti yang terjadi sekarang kualitas lembaga pendidikan maupun siswanya tidak bisa mencapai prestasi maksimal, konon kata lain mereka hanya profesional untuk mementingkan dirinya saja, akibat itu beberapa lembaga pendidikan pada paska pendaftaran peserta didik baru (PPDB) 2015 kemarin, banyak yang tidak mendapatkan siswa karena  sekolah tersebut tidak memiliki mutu dikarenakan gurunya hanya memikirkan sertifikasi saja, ujarnya
Lebihlanjut Triyono mengharapkan kepada pemerintah, staf ahli maupun pakar pendidikan di kabupaten Brebes untuk membahas adanya evaluasi tentang sertifikasi tunjangan profesional bagi guru agar lebih mengena. Sehingga bisa memberikan solusi dan memprogramkan pendidikan-pendidikan dalam turut mencerdaskan anak-anak Brebes.  Apalagi IPM Brebes dalam bidang pendidikan masih sangat rendah.
 “Profesional guru, juga belum terlihat nyata, tunjukanlah dengan peningkatan IPM Brebes,” harapnya. Imam(R)

Share this article :